Dua Juta Aborsi Tiap Tahun

November 27, 2009

Semarang – Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Tengah dr Hartono, SpOG memperkirakan setiap tahun di Indonesia terjadi dua juta aborsi yang dilakukan tidak sesuai dengan standar keamanan sehingga membahayakan ibu hamil.

“Kasus aborsi
memang fenomena gunung es, yang terlihat di permukaan hanya sedikit namun jumlah kasus yang sebenarnya sangat banyak. Angka yang terekam sekitar dua juta kasus aborsi setiap tahun,” katanya pada rapat kerja dengan Komisi E DPRD Jateng, di Semarang, Rabu.

Ia mengingatkan, aborsi bukanlah masalah sederhana bagi pelakunya, namun biasanya dilatarbelakangi persoalang yang lebih kompleks, mulai dari alasan kehamilan yang tidak diinginkan, alasan ekonomi, perkosaan, alasan si ibu mengidap penyakit jantung, traumatik, hingga alasan sosial.

Melihat dari beragam alasan yang dikemukakan oleh pelaku aborsi, menurut Hartono, tidaklah mengherankan bila peminat aborsi dari waktu ke waktu semakin banyak dan metode yang digunakan juga makin beragam meskipun tidak selamanya aman dari sisi kesehatan.

Dokter spesialis kandungan tersebut memberi contoh makin meluasnya penggunaan obat dengan merek dagang “Cytotec” produksi Searle Pfizer yang indikasinya digunakan untuk obat mag, namun justru sengaja disalahgunakan untuk menggugurkan kandungan.

Cytotec” yang memiliki nama generik “Misosprostol” ini bisa diperoleh dengan mudah di apotek, meskipun seharusnya ditebus dengan resep dokter. Obat ini memiliki kontraindikasi (larangan) dikonsumsi wanita hamil dan menyusui, namun justru efek samping inilah yang digunakan untuk aborsi.

Hartono menambahkan, banyak iklan di surat kabar menawarkan beragam ramuan yang bisa melancarkan kembali menstruasi, yang tujuan akhirnya untuk menggugurkan kandungan. “Kalau kandungannnya gugur, berarti wanita itu bisa menstruasi lagi,” katanya.

Menurut dia, pengguguran kandungan memang persoalan dilematis, karena secara hukum memang dilarang, seperti diatur dalam Pasal 80 Undang-Undang Nomor 32/1992 tentang Kesehatan, Pasal 76 UU No.29/1974 tentang Praktik Kedokteran dan Pasal 348 KUHP.

Tetapi di luar aspek yuridis tersebut, menurut dia, ada sejumlah faktor yang mendorong ibu hamil menggugurkan kandungan, seperti alasan kesehatan ibu, perskosaan, atau kelahiran tidak diinginkan dengan alasan sosial ekonomi.

Hartono mengisahkan, pernah dimintai tolong seorang tokoh terkemuka yang minta cucunya yang masih duduk di bangku SMA untuk digugurkan kandungannya dengan alasan malu kepada orangtua anak itu yang menitipkan anak gadisnya kepada dirinya.

“Ini memang ilegal atau melanggar hukum, namun di dalamnya ada dilema dalam diri kita sendiri ketika kita menghadapi persoalan seperti itu,” katanya.

Direktur Reserse Polda Jateng Kombes Pol Zulkarnaen di tempat sama mengemukakan, sepanjang tahun 2006 terdapat dua kasus aborsi yang masing-masing dilakukan dokter gadungan Hanung Prabowo dan dilakukan dokter Kokok, yang tidak memiliki spesialisasi kadungan.

“Perkara dokter gadungan Hanung sudah disidangkan dan perkara dokter Kokok sudah dilimpahkan ke Kejaksaan,” kata Zulkarnaen.

Dua dari puluhan wanita hamil yang minta digugurkan kandungannya oleh tersangka dr Kokok, katanya, dilakukan atas seizin suaminya. Zulkarnaen menambahkan, dari pantauannya di Solo, Pekalongan, dan Pati sejauh ini tidak ada praktik aborsi, sedangkan di Karesidenan Kedu sampai sekarang belum ada laporan.

Keterangan Zulkarnaen tersebut menegaskan pernyataan dr Hartono yang mengatakan, aborsi memang fenomena gunung es. (widodo prasetyo/cn09)

Sumber: SuaraMerdeka
Dikopi dari CBN Portal

%d bloggers like this: